LEBARAN Fitri nan Berlebihan

“Wa’alaikumussalaam WorohmatuLLAHi Wabarokatuh” Kang Toha menutup ceramahnya bada sholat witir.
Jamaah yang hadir mulai lalu lalang untuk menuju pintu seperti lebah yang keluar dari sarangnya. Masjid Bintang yang ramai mulai menurun tensinya berubah jadi lengang dan diisi beberapa santriwan dan santriwati yang tengah asyik mendendangkan ayat Ilahi.

 

Kang Toha yang masih di masjid nampak akan merebahkan tubuhnya didatangi oleh Pak Ismail dan anaknya Lia. “Assalaamu’alaikum, Maaf Kang Toha minta waktunya sebentar nih, mau ada yang ditanyakan…” Buka Pak Ismail.

“Wa’alaikumussalaam WorohmatuLLAHi Wabarokatuh, oh… iya pak Ismail… silahkan” jawab kang toha sambil membenarkan tubuhnya untuk berkomunikasi.

“Jadi gini, mau Tanya beberapa hari lagi khan akan masuk hari raya Idul fitri. Yang kami tanyakan apakah harus dengan ritual pakaian yang baru, tradisi membersihkan rumah dan karpet, atau hal yang kami anggapa berlebihan data menyambutnya? Bagaimana itu ya kang?” sejurus Pak Ismail langsung mengajukan pertanyaan.

 

“Sebenarnya seperti ini pak ismail dan mbak Lia tentang berlebihan di hari raya atau biasa kita sebut dengan lebaran itu adalah wajar karena perjuangan 1 bulan Romadhon dan tiba pada hari kemenangan, namun  ALLOH itu kurang menyukai berlebihan, seperti  firmanNYA dalam surat Al ‘Arof ayat 31 “makan dan minumlah kamu, tapi jangan berlebihan”. Nah kalau Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Jauhilah oleh kamu sekalian sikap berlebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah menghancurkan umat-umat sebelum kamu” Atau mungkin bapak dan mbak pernah mendengar akan cerita tentang seorang sahabat yang ditegur oleh Nabi Muhammad karena berdoa tanpa bekerja. Nah, dari sini saja kita dapat menemukan bahwa dalam berdoa saja kita harus mengimbangi dengan ikhtiar sebagai aksi nyata kita. Jadi tentang berlebihan juga kurang elok rasanya, karena sebaiknya kita adalah dalam keadaannya pas di tengah tanpa kekuarangan atau berlebihan.

Untuk tradisi tentang pakaian baru, mungkin bisa disandarkan akan anjuran atau Sunnah Idul Fithri untuk memakai pakaian terindahnya di hari tersebut. Nah untuk pakaian terindah ini biasanya dimaknai sebagaian dari kita dengan pakaian yang baru. Itulah tergantung pada kita memaknainya saja, silahkan pakai pakaian terbaik menurut kita.

Nah, yang unik yang saya sendiri menemuinya adalah tradisi bersih rumah atau biasanya di desa itu adalah karpet yang di bawa ke kali untuk dibersihkan. Mungkin pak ismail dan mbak Lia pernah mendengar cerita saat ada sahabat yang menjamu tamu yang disarankan Nabi dengan cara yang sangat baik hingga keluarga sahabat ini menahan lapar semalam untuk menghidangkan makanan meraka pada tamu ini. Mengenai memuliakan tamu ini Abu Hurairoh meriwayatkan hadits “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Dari sini kita dapat simpulkan mengetahi pemuliaan tamu dalam agama kita sangatlah dianjurkan, untuk membersihkan rumah atau mencuci karpet saya rasa tak apalah untuk ikhwal tersebut asal selalu dianjurkan juga oleh sahabat kita yang lain adalah jangan sampai kita mensifatinya sebagai syari’at.

Sampai disini ada lagi pak Ismail atau mbak Lia??” jelas kang Toha dengan nada khasnya.

Sambil memperhatikan dengan seksama penjelasan dari kang Toha, Pak ismail kemudian menanyakan pada anaknya “Lia ada yang ditanyakan lagi?”

“owh jadi berlebihan yang seperti itu ya Kang?” Tanya Lia

“Iya, jangan terlalu berlebihan… pakaialah dan gunakan yang terbaik di hari kemenangan itu. Berlebihan intinya kurang bagus bagi kita seperti makan itu adalah kebutuhan namun bila berlebihan kurang baik juga khan. Pun begitu dengan puasa, ada cara dimana jika kita ingin puasa sepanjang tahun yakni dengan puasa daud bukan puasa tiap hari. Atau ada lagi tentang mahar, Nabi pernah bersabda “Sebaik-baiknya mahar adalah yang paling mudah” berarti khan juga tak berlebihan dalam meminta mahar” tukas Kang Toha

“Wah, bener juga ya Kang… siiip deh” kata Lia

“ada lagi yang perlu kita sharing-kan?” Kang Toha bertanya pada pak ismail dan Lia.

“kira cukup sekian ya Pak? Sudah mau malem ni…” Lia sambil memegang lengan bapaknya

“Oke deh kalau begitu, matur suwun sanget Kang… Assalaamu’alaikum WorohmatuLLAHi Wabarokatuh” tutup pak Ismail lalu beserta anaknya hendak pergi

“Nggih, monggo… Wa’alaikumussalaam WorohmatuLLAHi Wabarokatuh” tutup Kang toha juga lalu bersiap membujurkan tubuhnya bersiap santai untuk sekedar melemaskan tubuh.

 

 

 


 

-
Mengenal, Berbincang, hingga Bersahabat via twitter, Follow -> @seHARIADI