Score KLOUT Error?

Score KLOUT Error? Ada Apa dengan Klout? Menurut  Wikipedia Klout is a website and mobile app that uses social media analytics to rate its users according to online social influence via the “Klout Score”, which is a numerical value between 1 and 100. In determining the user score, Klout measures the size of a user’s social media network and correlates the content created to measure how other users interact with that content. Klout launched in 2008.

Score KLOUT Error

Beberapa pekan ini saya mengalami hal yang membuat saya menyimpulkan bahwa Score KLOUT Error. Ohya, Apakah sebagian dari kita sudah tahu Klout? Secara ringkasnya, Klout adalah alat Ukur untuk menganalisa Akun Social Media kita; Khususnya Twitter, Facebook & Google Plus. Meski memang ada banyak social media tambahan seperti Youtube, Foursquare, Instagram dan lainnya yang ditambahkan untuk menambah tingkat akurasi analisa dari kegiatan kita ber-social media.

Beberapa Pekan ini, Score Klout mengalami guncangan. Kenapa? Ya, karena nilai dan analisa klout mulai tidak akurat dan cenderung berganti dengan perubahan yang tidak wajar. Seperti yang saya lakukan beberapa waktu ini saya mengecek salah satu akun Social media yang saya pegang, Nilai beberapa pekan yang lalu berkisar di Score Klout 59 dengan perubahan statistik diantara nilai tersebut, namun selang beberapa hari yang lalu Score Klout berubah jadi 63, yang membuat aneh adalah dimana Score Klout history-nya adalah berkisar di nilai 63 bahkan sempaut dalam history tersebut nilai-nya 70-an.

Score KLOUT-SelametHariadi.com
KLOUT

Kita memang perlu memahami bersama kalau Klout sedang mengalami perbaikan di beberapa hal, sehingga tampilannya dalam analisis  mulai tidak diperlihatkan dengan jelas. Padahal perlu dicermati bersama, saya beberapa waktu juga mengisi Klout Perks yang  dikatan dalam situsnya bahwa dengan ini kita akan mendapat bingkisan.

Apapun yang sedang dikembangkan Klout, semoga lebih baik. Mungkin kita bisa melihat sedikit bocoran tampilan klout baru di priview.klout.com yang tampilannya memang benar-bear baru dan memperlihatkan tweet kita yang mampu mempengaruhi banyak orang dan dengan ReTweet yang banyak dibanding tweet lainnya. Bila Pun kita ingin menggunakan Klout memang harus menunggu beberapa waktu hingga proses Maintenance atau perbaikan Klout dapat lebih cepat dan analisanya dapat lebih akurat. Kita juga bisa mencoba alat ukur Social media lainnya, selain Klout.

Terima Kasih telah Membaca, Semoga bermanfaat.

Selamet Hariadi

berSalaman Seusai Sholat = Memperkuat Network Hati ???

Tak Seperti biasanya seusai sholat dhuhur cuaca mendung dan kemudian turunlah hujan secara perlahan membasahi panasnya bumi yang mulai tua ini…

Kang Toha yang setelah sholat Dhuhur berniat mengistirahatkan Raganya sejenak di rumah seakan menahan langkahnya untuk itu. Senyum manis mengembang di bibirnya. “Alloh, ada apa ini… niat hamba yang tadi sepertinya Kau tahan. Semoga dengan tinggalnya hamba di Masjid saat ini mempunyai manfaat sesuai rangkaian kehidupan yang Kau bimbing untuk hamba” gumamnya dalam hati.

Kang Toha sambil terus berdzikir menghadap ke luar menyaksikan hujan yang menghilangkan dahaga bumi. Tak lama kemudian sahabatnya bernama Furqan menyapanya.. “Assalaamu’alaikum Kang, kelihatannya sumringah ni..”Sapa Furqan.

“Wa’alaikumussalaam… Allahu Robbul Izzati.. Alhamdulillah sumringah meski agak tertahan bathin karena gak sesuai rencana… hehe..” Jawab Kang Toha.

Lalu mereka mengobrol dengan menyambung bagai air yang mengalir di gurun begitu saja…

Selang beberapa menit, pembicaraan mereka tiba pada masalah psikologi dalam beragama.

“Kang, ente ini khan orang teknik tapi pengetahuan ente tentang psikologi dan tasawuf cukup mendalam… ni saya mau tanya aja bila menurut ente yang ilmu sosialnya agak baik, bagaimana memandang bersalaman seusai sholat? Wong salaman aja kok gak boleh kata temen-temen. Tapi ada Kyai juga Salaman seusai sholat Jama’ah.” Kata Furqan.

“Masalah itu ya… Saya pernah dapat riwayah kalau jaman Nabi & sahabat dulu, mereka bila bertemu bersalaman dan saling berpelukan. Dari segi kajian psikologi yang pernah dibahas, hal itu sebagai alat memperkuat keakraban antar Ummat Islam. Sehingga bila hati, fikir serta diri ini telah akrab suatu hal indah dalam “ukhuwah” akan sangat terasa sekali.. bukan begitu..??? “ Kata Kang Toha.

“hmm… ya Kang, saya pernah tahu ada riwayah seperti itu, serta saya dulu pernah dapat penjelasannya juga.. trus Kang?” Sambung Furqan.

“Bersalaman seusai sholat Jama’ah sebenarnya hampir seperti masalah Qunut, Raka’at Sholat Terawih.. dan lainnya yang menjdi masalah furu’ atau cabang memahami agama.

Memang benar kalau dalam seni berhubungan dengan orang lain, bersalaman adalah awal untuk mennyambung serta menghangatkan hati kita dengan hati orang lain. Kalau pas tidak seusai sholat sih belum ada yang banyak mendikte untuk menentang, tapi kalau pas bahasannya setelah sholat Bersalamannya, banyak tanggapan serta pemikiran tentang ini… ada yang keras menentang hingga ‘nedo nrimo’ atau bisa diartikan emang gue pikirin masalah itu..hehe… <sambil tertawa kecil>

Kalau dalam riwayah saja bersalaman saat ketemu sebagai hal yang dilakukan, alangkah indahnya jika kita melakuknnya setelah Sholat Jama’ah. Bila kita biasanya agak canggung bila bertemu dengan saudara kita sesama Muslim karena mungkin jabatan, wibawa, atau sikapnya yang tertutup.. maka bersalaman setelah sholat bila dipandang dari segi lain akan memperkuat jalinan hati kita dalam indahnya ukhuwah. Menjabat erat dengan menatap matanya sambil berucap “barokalloh”… waw betapa indahnya itu..

Mungkin segala rasa yang canggung itu akan sirna karena tradisi seperti itu… hak sesama Muslim yang pada saat bertemu dianjurkan bersalaman itu akan terpenuhi disini.. “ Terang Kang Toha

“ya.. ya.. Kang… bener juga ya…

Memahami agama ini secara konstruk kaku kadang memang kurang bisa bersatu dengan masyarakat dengan kultur seperti sekrang yang lebih tenggah rasa” Sambung Furqan

“Fur, Saya juga masih fakir ilmu, saya kadang belum terstruktur dalam beragama… jawaban saya bukannya maksud condong pada satu pendapat bersalaman setelah Sholat, tapi kita coba lihat dari segi manfa’at serta kajian psikologi karakter-nya” Tambah Kang Toha.

“oyi thok wis Kang… emang harus banyak pendapat yang kita pelajari, bukan hanya manut dari 1 pendapat. Kalo sudah tahu kenapa mereka melakukan, maka rasa benci atau dengki itu akan sirna.  Hmm… emang seharusnya kita mencontoh ummat Islam terdahulu dalam toleransinya dalam perbedaan yang ‘kuat dalam prinsip, elegan dalam prakteknya’, sama-sama belajar kalau gitu..” Jawab Furqan.

“Ya.. tu khan.. ente sudah pinter juga gitu… udah agak terang, kemarin habis beli novel “Sepertiga Malam” belum saya baca… saya pulang duluan ya… semoga pertemuan kali ini barokah dan ada manfa’atnya..” Kata Kang Toha.

“ya semoga Kang… saya masih disini… mau ngaji dulu, lalu ada agenda beli buku bulanan…” Jawab Furqan.

Mereka bersalaman dengan erat dan dengan tatapan yang menyejukkan…

“Barokalloh… Wassalaamu’alaikuum Warohmatullah…” Sambung Kang Toha

“Wa’alaikumusslaam Warohmah…” Jawab Furqan.

Detik hujan mulai menahan langkahnya untuk membuka jalan Kang Toha untuk Pulang… Furqan asyik dengan Syaamil Qur’an-nya…

Pahamilah jangan minta dipahami …

Pahamilah jangan minta dipahami …, entah darimana kata-kata itu… di sore ini seakan muncul kembali di fikiran seorang manusia yang masih lemah ini. Memang tadi telah muncul di sekelumit otak ini waktu menulis mengisi ‘apa yang kau fikirkan di salah satu situs’. Ya, seakan sambil mendengarkan instrumen yang sudah kurindukan dari dulu ini, fikiran tentang “Barseso” kembali muncul. Bayangan akan cerita saudara “Ali” muncul, lalu bagimana “Sholahuddin al-ayubi” seperti diceritakan salah satu penulis yang bukunya belum sempat kubaca habis.

Mengalirkan fikiran menjadi manusia yang positif bagi orang lain itu mungkin tak semudah membalikkan telapak tangan. Kadang terbersit, bagaimana seorang motivator atau trainer atau murabbi misalnya menyemangati diri mereka… apakah mereka sujud dikeheningan malam, mengeluhkan semua masalahnya pada sang istri, terdiam sejenak di tepian kota, melihat video atau suara-suara tentang motivasi.

Tulisan kali ini memang tanpa arah, karena ada tekanan mental entah dari mana datangnya untuk segera menulis apa saja… ketika mendengar suara ibu rasanya aku ingin segera mencari uang sebanyak-banyaknya untuk segera memuliakan orang tua. Ingin segera mendapat buayak harta yang ingin kuberi pada mereka. Aku rasa aku gagal jadi lebih baik hari ini, mungkin ayah akan kecewa, ibu akan menangis tentang sikapku kali ini…

Entah kenapa fikir ini selalu mengingatkan kalau sekarang kau adalah seorang pemimpin, pemimpin di salah satu komunitas non profit. Ya, sindiran dari * memang benar jadi * tapi gak dibayar, mungkin itu sekilasnya. Lalu apa yang harus dilakukan? Tak dapat menolak memang, tak dapat berpaling ketika batu di depan itu harus disingkirkan.

Mendesah lemas itu yang kadang dilalukan … tapi itu tak mengurangi apa yang ada dalam bebanmu sobat.. apa yang kau rasa tak dirasanya.. maka, cara paling baik adalah merasakannya.. maksudnya? Ya merasakan sendiri. Kadang teringat tentang teori fasilitator atau manusia yang baik adalah tak membagikan kotoran pada manusia yang lain, tapi membagikan makanan yang enak pada mereka.

Wah apa lagi yang ingin ditulis…

Semoga ustadzku dapat bangga mempunyai santri yang masih ingin berusaha merubah nasibnya dan keluarganya…

Satu kalimat penutup tulisan yang kurang masuk nominee baik ini adalah

“melihat daun yang jatuh di genteng orang lain akan lebih mudah, tapi melihat daun yang jatuh di  rumah sendiri kan lebih sulit…” Biarkan mereka menunjukkan narsisme mereka dengan cara mereka, aku… hmm… biarkan memperbaiki yang masih rapuh ini, tunggulah beberapa saat lagi akan kuruntuhkan ego mereka…