Ketika Topeng Malang Menjadi Panggung Cinta Anak-Anak Difabel

Kesenian Topeng Malang kini tidak lagi sekadar artefak sejarah yang tersimpan di museum atau pakem tari tradisional yang biasa. Di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, Bumiayu, warisan budaya kebanggaan Jawa Timur ini justru menjadi panggung cinta dan ruang kesetaraan bagi puluhan anak berkebutuhan khusus dari 13 SLB se-Malang Raya pada minggu hingga Senin, 30-31 Agustus 2026. Melalui perhelatan harmonisasi seni yang memadukan lomba kriya, parade tari, hingga sarasehan budaya, anak-anak istimewa ini membuktikan bahwa kelestarian kesenian Topeng Malang mampu menjadi medium pemberdayaan yang mendobrak stigma sekaligus membangun kemandirian sejati.

Acara bertajuk “Harmonisasi Griya Kriya Topeng Ramah Difabel” ini sejatinya bukan perhelatan instan. Sebagai praktisi yang kerap melihat bagaimana sebuah program dijalankan, saya menyoroti betapa matangnya eksekusi acara ini. Rangkaiannya sudah bergulir sejak Mei 2026 mulai dari pelatihan membatik bersama Universitas Ciputra Surabaya, hingga puncaknya di akhir Agustus ini. Semuanya digerakkan oleh panitia muda (16-35 tahun) dari Sanggar Budaya Anak Nareswari dan Yayasan D’Mart Thithiek Tenger, dengan sokongan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan 2025.

Topeng Malang Menjadi Panggung Cinta Anak-Anak Difabel selamethariadi

Hari Pertama: Air Mata, Regulasi, dan Pelukan Masyarakat

Hari pembukaan sepenuhnya didedikasikan sebagai panggung cinta untuk anak-anak difabel. Kemeriahan langsung terasa lewat kompetisi mewarnai topeng (SD-SMP), melukis topeng (SMA), hingga parade tari kategori bebas. Namun, kejutan sebenarnya justru datang dari atas panggung.

Momen paling menyentuh terjadi ketika Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP., resmi didaulat sebagai “Bunda Disabilitas”. Penobatan simbolis oleh Ki Djoko Rendi ini terasa sangat istimewa mengingat dedikasi sang Bunda. Bayangkan saja, beliau baru saja menuntaskan tugas di Medan, transit di Jakarta, dan begitu mendarat di Malang, langsung meluncur ke Bumiayu tanpa sempat singgah ke rumah.

Di hadapan peserta, Sri Untari membawa angin segar dari sisi regulasi. Beliau menegaskan bahwa Perda Disabilitas sedang dikebut dan ditargetkan rampung bulan Agustus ini. Regulasi ini bukan sekadar macan kertas; di dalamnya terdapat amanat pembentukan Komisi Disabilitas yang menargetkan kuota 1-2 persen bagi anak-anak difabel berpotensi di dunia kerja. Fakta menarik di lapangan pun terungkap: banyak perusahaan IT saat ini justru berburu pekerja disabilitas karena tingkat fokus mereka yang diklaim 1,5 kali lebih maksimal dibandingkan pekerja pada umumnya.

Sebagai bentuk edukasi preventif, sang Bunda Disabilitas juga menyoroti isu kesehatan kehamilan. Beliau mewanti-wanti ibu hamil untuk menjauhi junk food dan makanan olahan yang mengandung Asam Propionat (PPA) seperti keju olahan dan roti komersial yang menurut riset dapat memicu gangguan saraf janin hingga risiko Autism Spectrum Disorder.

Kehadiran masyarakat lokal turut menyempurnakan hari pertama ini. Karang Taruna Bumiayu menyumbangkan gemulai Tari Gandrung. Tak mau kalah, belasan ibu-ibu lansia dari Karawitan Wibisono Laras Budoyo di bawah asuhan Bapak Sukardi menghidupkan suasana. Langgam tembang seperti Ayun-ayun, Gugur Gunung, hingga Sholatullah mengalun syahdu. Puncak hari pertama ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Ki Djoko Rendi dan Bunda Maria Carmela Nur Indri Hariani, disusul aksi borong produk UMKM SLB oleh Sri Untari dengan mata yang masih berkaca-kaca.

Hari Kedua: Ruang Terbuka, Dinamika Lapangan, dan Puncak Sarasehan

Jika hari pertama adalah afirmasi untuk kelompok difabel, hari kedua dirancang sebagai titik temu (inklusi) dengan masyarakat umum. Ketu pelaksana, Ndaru Lazarus, merombak format acara menjadi ajang lomba umum mulai dari diamond painting tingkat TK, melukis topeng 3D (SD-SMA), hingga lomba membatik.

Dari kacamata manajerial lapangan, hari kedua menghadirkan tantangan tersendiri. Mengingat acara jatuh pada hari kerja, panitia mengalami kekurangan sumber daya manusia. Meski dibantu relawan mahasiswa dari Binus, Ma Chung, UM, dan UB, hanya lima panitia inti yang berjibaku di lokasi. Kendati demikian, roda acara tetap berputar mulus. Sebanyak 20 pelaku UMKM (termasuk 7 dari Forum Disabilitas Bumiayu) sukses meramaikan perhelatan.

Di sela-sela dinamika tersebut, Ndaru memberikan pandangan menarik soal tren budaya. Menurutnya, ekosistem budaya Malang sedang mengalami lonjakan traffic yang signifikan. Sanggar seni menjamur, dan perhelatan budaya kian masif terekspos berkat media sosial. “Budaya itu bukan sekadar aturan baku yang kaku, tapi bagian dari kehidupan yang tumbuh,” ujarnya.

Topeng Malang Menjadi Panggung Cinta Anak-Anak Difabel selamethariadi.com

Sarasehan Sejarah, Menautkan Masa Lalu dan Masa Depan

Puncak sejati dari seluruh rangkaian ini adalah Sarasehan Budaya dan Sejarah Topeng Malang pada ruang eksklusif bersama sejarawan Drs. M. Dwi Cahyono, M.Hum. Diskusi ini menjadi semacam konklusi intelektual, di mana sejarah panjang topeng Malangan dibedah lalu ditautkan dengan semangat pemberdayaan yang sedang menyala di Griya Kriya.

Apresiasi untuk Para Juara Tentu saja, apresiasi tertinggi patut disematkan kepada para jawara yang telah membuktikan bahwa keterbatasan hanyalah ilusi:

  • Mewarna Topeng Malang SD-LB: 1. Zikal Vegan Alfazil (SLB Bimantara), 2. Bima (SLB Putra Harapan), 3. Arimbi Ayu (SLB Al Firma’una).

  • Mewarna Topeng Malang  SMP-LB: 1. Atiqa Bilqis (SMPN 17 Inklusi), 2. Dinda Ayu (SLB BC PGRI Sumberpucung), 3. Yusuf R. (SLB Pembina).

  • Melukis Topeng Malang  3D SMA-LB: 1. A. Dzalikal Denovan (SLB PGRI), 2. Vinsa (SLB DW 03 Turen), 3. Sera S. (SLB Idayu 2).

  • Parade Tari: 1. SLBN Pembina Tingkat Nasional Bag. C, 2. SLB Putra Harapan Karangkates, 3. SLB Dharma Wanita 03 Turen.

Melihat besarnya dukungan dari para pemangku kebijakan mulai dari Kadisbudpar Jatim Evy Afianasari, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Malang Suroso, Kadinsos Kota Malang Muhamad Sailendra, hingga pimpinan DPRD dan pihak swasta seperti Grand Mercure Mirama Kepanjen terlihat jelas bahwa inklusivitas kini mulai mendapat porsi serius.

Di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, topeng Malangan telah melampaui fungsinya sebagai benda pusaka. Di tangan anak-anak istimewa ini, ia menjelma menjadi sebuah bahasa baru bahasa yang lantang berbicara tentang kemandirian, penerimaan, dan masa depan yang memberi ruang bagi semua orang tanpa terkecuali. Sebuah eksekusi visi budaya dan sosial yang layak kita beri standing ovation.